https://jurnal.akfarbhj.ac.id/index.php/BHJ/issue/feedFarmasi-QU Jurnal Pelayanan Kefarmasian2026-07-08T03:48:31+00:00Mira Husni Sanjaya, SKM.,MPHakfarbhumihusadajkt@gmail.comOpen Journal Systems<p>JURNAL FARMASI BHUMI HUSADA JAKARTA</p> <p> </p> <p>Jurnal Farmasi-Qu bhumi Husada diterbitkan setiap satu tahun sekali dalam bentuk cetak. Ditengah-tengah kesibukan dosen, Redaksi berharap Jurnal Farmasi-Qu Bhumi Husada ini dapat secara rutin terbit setiap satu tahun sekali, untuk itu kami mohon partisipasi, komitmen dan dukungannya.</p> <p> Banyak tantangan yang dihadapi untuk dapat diterbitkannya Jurnal Farmasi-Qu Bhumi Husada ini secara rutin atau berkala, tetapi hendaknya tantangan yang ada dapat menjadi dorongan bagi seluruh Dosen di Akademi farmasi Bhumi Husada Jakarta untuk selalu mengirimkan artikel pada edisi berikutnya.</p> <p> Perlu diingat bahwa Jurnal ini dapat memberikan kesempatan kepada seluruh dosen atau peneliti untuk mendeseminasikan karya-karya penelitian atau karya ilmiah agar bermanfaat bagi masyarakat luas.</p> <p> Semoga Jurnal Farmasi Bhumi Husada tetap terbit secara berkesinambungan dimasa depan dan Redaksi mengucapkan “Selamat Membaca”.</p>https://jurnal.akfarbhj.ac.id/index.php/BHJ/article/view/147EVALUASI TINGKAT PENGETAHUAN TENTANG ANTIBIOTIK PADA MASYARAKAT DI KELURAHAN SETU KECAMATAN CIPAYUNG TAHUN 20252026-07-08T02:53:21+00:00Indrianti Poppyindrianti_poppy@gmail.comAldilla Mutiaaldilla_mutia@gmail.com<p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p><strong> </strong></p> <p> Penyakit infeksi adalah penyakit yang disebabkan oleh mikroorganisme, yang kemudian memicu respon tubuh akibat stimulasi sistem kekebalan tubuh. Untuk mengatasi berbagai macam infeksi bakteri banyak digunakan antibiotik. Penggunaan yang tidak sesuai anjuran resep dokter, dapat memicu dampak dan menyebabkan bakteri menjadi resistensi. Tujuannya penelitian ini untuk Mengevaluasi Tingkat Pengetahuan Tentang Antibiotik Pada Masyarakat di Kelurahan Setu Kecamatan Cipayung Tahun 2025.</p> <p> </p> <p> Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif deskriptif, pengambilan sampel dengan Teknik <em>Random Sampling</em>. Jumlah sampel ditentukan menggunakan rumus <em>slovins</em>, dengan hasil sampel terdiri dari 322 responden yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi. Adapun kriteria inlkusi dalam penelitian ini adalah responden yang mewakili setiap KK RW 003 Kelurahan Setu Kecamatan Cipayung, dari usia responden 17-65 tahun. Pengolahan dan analisa data dilakukan menggunakan program <em>Ms</em>.<em>Excel</em> dan SPSS versi 22.</p> <p> </p> <p> Pada hasil penelitian univariat dapat diketahui responden rentang usia terbanyak 26–35 tahun dengan jumlah 136 responden (42,2%), dan didominasi oleh responden berjenis kelamin perempuan sebanyak 270 responden (83,9%). Jika dilihat berdasarkan tingkat pendidikan, sebagian besar responden terbanyak merupakan lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) dengan jumlah 206 responden (64%), sedangkan berdasarkan status pekerjaan, responden terbanyak bekerja sebagai pegawai swasta dengan jumlah 100 responden (31,1%). Adapun tingkat pengetahuan masyarakat mengenai antibiotik menunjukan kategori cukup, dengan jumlah 155 responden (48,1%),dan dengan kategori kurang dengan jumlah 145 responden (45%). Hasil bivariat menunjukan adanya hubungan antara karakteristik berdasarkan usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan dan status pekerjaan dimana hasil <em>P Value</em> <0,05.</p> <p> </p>2026-07-06T00:00:00+00:00##submission.copyrightStatement##https://jurnal.akfarbhj.ac.id/index.php/BHJ/article/view/149ANALISA TINGKAT PENGETAHUAN SWAMEDIKASI ANALGESIK DENGAN KARAKTERISTIK MASYARAKAT DI APOTEK ANGGREKSUKMAJAYA DEPOK JAWA BARAT TAHUN 20252026-07-08T02:59:54+00:00Fitriati Retnofitriati.retno@gmail.comPitryanti Pusfitapitryantipusfita@gmail.com<p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p> </p> <p> Swamedikasi merupakan penggunaan obat untuk mengobati gejala yang didiagnosis sendiri. Dalam pengobatan sendiri masyarakat memerlukan informasi yang jelas dan terpercaya agar pemilihan obat dilakukan secara rasional, seperti ketepatan obat dan dosis. Analgesik merupakan jenis obat yang digunakan untuk meredakan atau menghilangkan rasa nyeri dalam tubuh dan biasanya sering digunakan secara mandiri oleh masyarakat tanpa resep dokter, sehingga dapat menimbulkan efek samping. Maka penelitian ini dilakukan untuk Menganalisa Tingkat Pengetahuan Swamedikasi Analgesik dengan Karakteristik Masyarakat di Apotek Anggreksukmajaya Depok Jawa Barat Tahun 2025.</p> <p> Metode penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif dengan desain <em>Cross Sectional, </em>uji analisa yang digunakan yaitu analisa univariat dan bivariat dengan metode <em>Chi Square</em>, pengambilan sampel menggunakan teknik <em>Purposive Sampling</em> diambil sebanyak 400 responden yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi.</p> <p>Hasil penelitian menunjukkan tingkat pengetahuan responden didapatkan 24,0% memiliki pengetahuan baik, 48,5% memiliki tingkat pengetahuan yang cukup, dan 27,5% memiliki tingkat pengetahuan kurang. Terdapat hubungan yang signifikan antara jenis kelamin, usia, tingkat pendidikan dengan tingkat pengetahuan masyarakat tentang swamedikasi analgesik di Apotek Anggrek Sukmajaya Depok Jawa Barat tahun 2025. Nilai signifikasi untuk jenis kelamin dan tingkat pendidikan sebesar 0,000 (p<0,05), untuk usia sebesar 0,002 (p<0,05).</p>2026-07-08T00:00:00+00:00##submission.copyrightStatement##https://jurnal.akfarbhj.ac.id/index.php/BHJ/article/view/151ANALISA TINGKAT PENGETAHUAN PRALANSIA TERHADAP HIPERTENSi DI KELURAHAN KELAPA DUA WETAN JAKARTA TIMUR TAHUN 20252026-07-08T03:10:30+00:00Sanjaya Mira Husnisanjaya.mira.husni@gmail.comQori Nurbaitiqori_nurbaiti@gmail.com<p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p> </p> <p>Hipertensi menurut WHO (2023) adalah suatu kondisi dimana pembuluh darah mengalami tekanan darah yang meningkat secara menetap. Kondisi ini ditandai dengan tekanan darah sistolik memiliki tekanan darah tinggi (tekanan darah sistolik ≥40 mmHg atau tekanan darah diastolik ≥ 90 mmHg). Hipertensi juga sering disebut sebagai <em>“Sillent Killer”</em> (pembunuh siluman) karena sering kali penderita hipertensi tidak dapat merasakan gangguan atau gejala. Dilakukannya penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat penggetahuan masyarakat pada usia pralansia terhadap hipertensi. Salah satu kelompok usia yang perlu mendapatkan perhatian khusus dalam hal pencegahan dan pengendalian hipertensi adalah usia pra lansia, yaitu mereka yang berusia antara 45–59 tahun. Pada rentang usia ini, risiko terhadap penyakit degeneratif termasuk hipertensi mulai meningkat akibat berbagai faktor seperti perubahan metabolisme, gaya hidup tidak sehat, stres, serta kurangnya aktivitas fisik. Pengetahuan yang baik mengenai hipertensi termasuk penyebab, gejala, faktor risiko, pencegahan, dan penanganannya menjadi sangat penting agar masyarakat usia pra lansia dapat melakukan tindakan preventif dan promotif terhadap kesehatannya.</p> <p> Penelitian ini dilakukan pada pralansia di RW 008 Kelurahan Kelapa Dua Wetan, yang dilakukan pada bulan April-Mei 2025. Jumlah sampel yang digunakan sebanyak 175 responden. Metode penelitian ini adalah jenis penelitian kuantitatif dan bersifat non eksperimental dengan pendekatan <em>crocsectional</em>. Penelitian ini menggunakan spss dan teknik pengambilan data melalui lembar kuesioner. Data yang diperoleh diolah mengggunakan uji <em>chi-square</em>.</p> <p> Hasil penelitian didapatkan responden dengan tingkat pengetahuan pralansia sebanyak 19 responden (14,8%). Hasil data yang sudah di analisis<em> bivariat</em> didapatkan adanya hubungan variabel pendidikan, pekerjaan dengan tingkat penggetahuan dengan nilai <em>p-value</em> 0,000. Dan di dapatkan juga tidak adanya hubungan variabel usia, jenis kelamin dengan tingkat pengetahuan dengan <em>p-value</em> 0,326, <em>p-value</em> 0,517.</p> <p> </p>2026-07-08T00:00:00+00:00##submission.copyrightStatement##https://jurnal.akfarbhj.ac.id/index.php/BHJ/article/view/152PERAN MINDFULLNESS DALAM MENGHADAPI BURNOUT PADA TENAGA KESEHATAN DI RS “X” JAKARTA TIMUR TAHUN 20252026-07-08T03:25:47+00:00Safitri Ellysafitry.elly@gmail.comRizkia Maulidinarizkia.maulidina@gmail.com<p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p><strong> </strong></p> <p> Kesehatan mental menurut WHO sangat berpengaruh terhadap efektivitas kerja dan kesejahteraan individu. Namun, di Indonesia angka <em>burnout</em> cukup mengkhawatirkan. Dilakukannya peneitian ini bertujuan untuk mengetahui Peran <em>Mindfullness </em>Dalam Menghadapi <em>Burnout</em> Pada Tenaga Kesehatan di Rs “X” Jakarta Timur Tahun 2025.</p> <p> Penelitian ini dilakukan pada tenaga kesehatan di Rumah Sakit “X” Jakarta Timur. Jumlah sampel yang digunakan sebanyak 230 responden. Metode penelitian ini adalah jenis penelitian kuantitatif dan bersifat non eksperimental dengan pendekatan <em>crocsectional</em>. Penelitian ini menggunakan SPSS dan teknik pengumpulan data melalui <em>google form. </em>Data yang diperoleh diolah menggunakan uji <em>chi-square.</em></p> <p> Hasil penelitian menunjukkan hubungan antara <em>mindfulness</em> dengan <em>burnout </em>secara umum tidak memiliki hubungan dikarenakan nilai <em>P-Values </em>dari kedua hubungan ini 0,324 (P>0,05). Karakteristik responden didominasi oleh perempuan sebanyak 81,7%, kelompok usia 26-35 tahun sebanyak 56,1%, pendidikan terakhir perguruan tinggi 97,4%, masa kerja 1-5 tahun 45,7%, jenis pekerjaan keperawatan 30,0% dan status kepegawaian honorer 43,9% dan juga tidak terdapat hubungan antara <em>mindfulness</em> dengan dimensi <em>burnout</em> (<em>emotional exhaustion</em>, d<em>epersonalization</em>, <em>reduced personal accomplishment</em>) ditunjukkan dengan nilai <em>P-Values </em>0,756; 0,054; dan 0,841 (P>0,05).</p>2026-07-08T00:00:00+00:00##submission.copyrightStatement##https://jurnal.akfarbhj.ac.id/index.php/BHJ/article/view/153EVALUASI TINGKAT PENGETAHUAN SWAMEDIKASI INFLUENZA PADA MASYARAKAT DI KELURAHAN BAMBU APUS JAKARTA TIMUR TAHUN 20252026-07-08T03:32:01+00:00Putri Okkyana Kusumaputri.okky.kusuma@gmail.comMaharani Devimaharani.devi@gmail.com<p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p><strong> </strong></p> <p> Swamedikasi berarti mengobati segala keluhan pada diri sendiri dengan obat-obat yang sederhana yang dibeli bebas di apotek atau toko obat atas inisiatif sendiri tanpa nasehat dokter atau tenaga kesehatan terlebih dahulu. Swamedikasi biasanya dilakukan untuk mengatasi keluhan – keluhan yang banyak dialami masyarakat, seperti demam, nyeri, pusing, batuk, influenza, sakit maag, cacingan, diare, penyakit kulit, dan lain-lain.Tujuan penelitian untuk Mengevaluasi Tingkat Pengetahuan SWAMEDIKASI Influenza Pada Masyarakat di Kelurahan Bambu Apus Jakarta Timur Tahun 2025.</p> <p> Penelitian ini termasuk dalam penelitian deskriptif kuantitatif dengan alat instrumen berupa kuesioner yang dilakukan di lingkungan RW 01 Kelurahan Bambu Apus Jakarta Timur pada bulan April-Mei 2025 dengan responden sebanyak 340. Pengobatan dari analisa data dilakukan menggunakan program <em>Ms</em> <em>excel</em> dan SPPS versi 22.</p> <p> Hasil penelitian ini menunjukkan responden didominasi dengan umur 17-25 tahun (68.2%), jenis kelamin perempuan 216 (63.5%), tingkat pendidikan SMA/SMK dengan 255 responden (75%) dan status pekerjaan ibu rumah tangga 144 responden (42.4%). Dengan tingkat pengetahuan baik dengan presentase (6.5%), diperoleh dua hubungan antara karakteristik responden yaitu umur responden dan tingkat pendidikan responden terhadap tingkat pengetahuan nilai <em>p</em> <em>value </em>(0,000).</p> <p> Dapat disimpulkan bahwa masyarakat di Kelurahan Bambu Apus Jakarta Timur memiliki tingkat pengetahuan yang cukup dalam hal pengobatan sendiri (swamedikasi) influenza. Maka perlu dilakukan penyuluhan kesehatan pada masyarakat serta tidak semua karakteristik dapat mempengaruhi tingkat pengetahuan seseorang.</p>2026-07-08T00:00:00+00:00##submission.copyrightStatement##https://jurnal.akfarbhj.ac.id/index.php/BHJ/article/view/154PENGARUH TINGKAT PENGETAHUAN IBU MENGENAI PENYEBAB PENYAKIT CACINGAN DAN KESESUAIAN PENGGUNAAN OBAT CACING PADA ANAK DI KELURAHAN JATIPADANG JAKARTA SELATAN TAHUN 20252026-07-08T03:37:44+00:00Sari Wahyu Kartikasariwahyukartika@gmail.comIsmiantami Prima NurIsmiantami.prima.nur@gmail.com<p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p> </p> <p>Penyakit cacingan merupakan masalah kesehatan yang sering menyerang anak-anak, terutama di lingkungan dengan sanitasi yang buruk. Infeksi ini disebabkan oleh cacing parasit yang dapat memengaruhi status gizi dan pertumbuhan anak. Pengetahuan ibu sebagai pengasuh utama sangat berperan dalam pencegahan dan pengobatan cacingan, termasuk pemberian obat cacing secara berkala. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Pengaruh Tingkat Pengetahuan Ibu Mengenai Penyebab Penyakit Cacingan dan Kesesuaian Penggunaan Obat Cacing Pada Anak di Kelurahan Jatipadang Jakarta Selatan Tahun 2025.</p> <p>Penelitian menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan pendekatan survei melalui penyebaran kuesioner kepada 272 ibu yang memiliki anak usia 1–7 tahun. Hasil menunjukkan bahwa mayoritas responden memiliki tingkat pengetahuan baik (69,9%), cukup (6,6%), dan kurang (23,5%). Tingkat pengetahuan baik paling banyak dimiliki oleh responden dengan latar belakang pendidikan SMA dan status pekerjaan sebagai karyawan. Analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan (p=0,000) dan status pekerjaan (p=0,000) dengan tingkat pengetahuan, namun tidak terdapat hubungan antara umur responden dengan tingkat pengetahuan (p=0,804).</p> <p>Dapat disimpulkan bahwa tingkat pengetahuan ibu dipengaruhi oleh tingkat pendidikan dan status pekerjaan. Edukasi berkelanjutan melalui kegiatan posyandu atau penyuluhan kesehatan sangat dianjurkan, terutama bagi ibu dengan pendidikan rendah dan yang tidak bekerja. Untuk meningkatkan pemahaman dalam pencegahan dan pengobatan penyakit cacingan secara tepat.</p>2026-07-08T00:00:00+00:00##submission.copyrightStatement##https://jurnal.akfarbhj.ac.id/index.php/BHJ/article/view/156HUBUNGAN PENGETAHUAN TENTANG ANTIBIOTIK TERHADAP TINGKAT PENDIDIKAN MASYARAKAT DI KELURAHAN CIRACAS JAKARTA TIMUR TAHUN 20252026-07-08T03:43:32+00:00Thoriq Syahrul Faththroriq.syahrul.fath@gmail.comAgoestin Haryanto Ekoagoestin.haryanto.eko@gmail.com<p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p> </p> <p>Penggunaan antibiotik yang tidak tepat dapat menyebabkan resistensi yang membahayakan kesehatan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Hubungan Pengetahuan Tentang Antibiotik Terhadap Tingkat Pendidikan Masyarakat di Kelurahan Ciracas Jakarta Timur Tahun 2025.<br> Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan teknik pengumpulan data melalui kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Sampel penelitian berjumlah 280 responden yang dipilih menggunakan rumus Slovin dari total populasi 921 kepala keluarga. Karakteristik responden di RW 04 didapat hasil usia kelompok terbanyak pada 36-45 tahun, yaitu 77 responden (27,5%) sedangkan yang terendah diatas 55 tahun sebanyak 26 responden (9,3%), lalu jenis kelamin yang menjawab sebagian besar perempuan sebanyak 167 responden (59,6%), ada juga pendidikan dengan jumlah terbanyak tingkat pendidikan terakhir SMA sebanyak 134 responden (47,9%), serta pekerjaan terbanyak rata-rata responden di RW 04 adalah Pegawai Swasta sejumlah 73 responden (26,1%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan yang baik sebanyak 141 responden (50,4%), cukup sebanyak 105 responden (37,5%), dan sisanya kurang sebanyak 34 responden (12,1%). Analisis bivariat menggunakan uji Chi-Square menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pendidikan terakhir dengan tingkat pengetahuan (p = 0,697). Penelitian ini menunjukkan perlunya edukasi kesehatan yang merata untuk mencegah penyalahgunaan antibiotik dan resistensi yang ditimbulkannya.</p>2026-07-08T00:00:00+00:00##submission.copyrightStatement##https://jurnal.akfarbhj.ac.id/index.php/BHJ/article/view/158HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN REMAJA PUTRI DAN WANITA DEWASA TERHADAP PENGGUNAAN KRIM PEMUTIH WAJAH DI KELURAHAN LUBANG BUAYA JAKARTA TIMUR TAHUN 20252026-07-08T03:48:31+00:00Istikayati Sri Nuristikayati.sri.nur@gmail.comKhurotul Ainikhurotul.aini@gmail.com<p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p><strong> </strong></p> <p> Krim pemutih wajah adalah produk kosmetik yang banyak beredar dengan klaim yang dapat mencerahkan warna kulit wajah atau menyamarkan noda hitam. Mengingat banyaknya produk krim pemutih yang beredar di media sosial memang sangat menggiurkan. Apapun rela mereka lakukan untuk tampil cantik dengan kulit wajah yang putih dan bersih. Bahkan harga bukan masalah bagi mereka. Tetapi, tanpa mereka sadari banyak efek samping yang ditimbulkan oleh produk krim pemutih, contohnya efek samping dari merkuri dapat menyebabkan kulit wajah semakin menipis, hidrokuinon pada efek jangka panjang akan membuat warna kulit menjadi hitam permanen dan asam retinoat akan menyebabkan pengelupasan pada kulit. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui hubungan Tingkat Pengetahuan Remaja Putri dan Wanita Dewasa dalam Penggunaan Krim Pemutih Wajah di Kelurahan Lubang Buaya Jakarta Timur.</p> <p> Metode penelitian ini menggunakan metode pendekatan kuantitatif <em>chi square </em>yang dilakukan secara obsevasional dan bersifat analitik. Dengan menggunakan desain <em>cross sectional</em>, berdasarkan data primer berupa kuesioner. Sampel dalam penelitian diambil dengan menggunakan teknik <em>stratified random sampling</em>, yaitu sebanyak 250 responden. Dengan kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah remaja putri dan wanita dewasa di Rw 001 Kelurahan Lubang Buaya Jakarta Timur, remaja putri 17-19 tahun wanita dewasa 20-55 tahun, remaja putri dan wanita dewasa yang bersedia menjadi responden.</p> <p> Hasil penelitian ini didapatkan responden dengan usia terbanyak adalah usia 17-25 tahun sebanyak 100 responden (40%), tingkat pendidikan terbanyak adalah SMA/SMK sebanyak 129 responden (51,6%) dan status pekerjaan terbanyak adalah tidak memiliki pekerjaan sebanyak 98 responden (39,2%). Hasil pengetahuan responden di Kelurahan Lubang Buaya Jakarta Timur memiliki tingkat pengetahuan kurang sebanyak 98 responden (39,2%), tentang penggunaan krim pemutih wajah. Uji analisis <em>bivariat</em> menggunakan uji <em>chi square</em> terhadap hubungan antara pengetahuan dengan karakteristik responden seperti usia, tingkat pendidikan dan status pekerjaan didapatkan <em>p-value</em> < 0,05 hal ini menyatakan bahwa ada hubungan antara karakteristik responden dengan pengetahuan tentang penggunaan krim pemutih wajah.</p> <p> Kesimpulan: tingkat pengetahuan responden di Kelurahan Lubang Buaya Jakarta Timur memiliki tingkat pengetahuan kurang sebanyak 98 responden (39,2%) tentang penggunaan krim pemutih wajah.</p>2026-07-08T00:00:00+00:00##submission.copyrightStatement##